Bismillahirrahmanirrahim
Siapa
yang tidak kenal dengan cinta, siapa yang tidak pernah merasakan cinta,
merasakan bagaimana indahnya mencintai dan indahnya menyayangi,
siapa juga yang tidak ingin dicintai dengan penuh kasih-sayang, dan
semua insan pasti ingin mendapatkan semua itu, hingga hal itu
mendorongnya untuk memulai menjalin kasih diantara dirinya dengan
orang yang dicintainya, dia rela mengeluarkan semua yang mungkin bisa dia
lakukan demi kekasih yang dia sayangi dan demi cinta yang dia jaga.
Namun,
terkadang semua yang dia lakukan demi cintanya berakhir sia-sia,
terkadang cinta yang dia rasakan bertepuk sebelah tangan, dan terkadang
cinta tersebut berakhir dengan tragis. Sedikit yang cintanya
benar-benar menjadikan dia bahagia selama hidupnya, sedikit orang yang
merasakan nikmatnya mencintai, sedikit yang dapat merasakan indahnya
cinta ketika cinta itu telah terjalin, keabadian cinta yang didambakan
tidak ada ubahnya seperti fatamorgana yang hanya memberikan
bayangan air di tengah terik matahari yang menyengat.
Cinta
yang indah terkadang terjalin karena perhatian yang sangat dalam, dan
terkadang terjalin karena pertemuan yang benar-benar menembus kedalam
hati, terkadang juga hadir karena kasih dan sayang yang diberikan
seseorang kepadanya dan seterusnya.
Akan
tetapi dibalik semua itu ada suatu hal yang dilupakan oleh
kebanyakan insan, satu hal yang bersifat pertanyaan tentang ”siapa
sebenarnya yang patut dan pantas untuk dicintai?. inilah yang
kebanyakan kita melupakannya yaitu meraih cinta yang sesungguhnya,
bukan cinta manusia, bukan cinta dunia dan bukan pula cinta dari
orang yang dipuja atau cinta dari seorang laki-laki atau wanita.
Insan
telah lupa dengan Dzat yg selalu mennyayanginya, yang selalu
memperhatikan gerak-gerik langkahnya, yang selalu memenuhi setiap
keinginannya, yang menjadikannya masih bisa menhirup udara segar di
hari ini dan masih memberikannya penglihatan untuk melihat indahnya
dunia ini, kalaulah seandainya itu semua dimiliki oleh seorang insan
maka siapapun yang mengenalnya pasti akan mencintainya dengan cinta yang
benar-benar tulus, namun dia lupa bahwa semua itu hanya ada pada
Allah Ta'ala Rabb-nya, dia merasa bahwa semua ini bukanlah
milik siapapun, dia merasa bahwa semua yang dia rasakan ini adalah
miliknya.
Inilah
yang kita rasakan hingga menjadikan kita lupa dengan Rabb yang selalu
mengasihi kita, menyayangi kita, menjaga kita, memberi segala
kebutuhan kita, lalu pantaskah Dzat yang Maha Penyayang , yang Maha Kuasa
dan yang Maha Memberi, kita jadikan bagi-Nya lawan yang lebih kita cintai
dari-Nya, akankah kekasih yang belum tentu menyayangi kita lebih kita
cintai dari Zat yang benar-benar menyayingi kita?, kita rela teteskan
air mata ketika sang kekasih putus dgn kita, namun air mata ini tak
pernah jatuh sedikitpun ketika Rabb memutuskan hubungan-Nya dengan
kita. Inilah kita insan yang tak pandai bersyukur, selalu mengeluh,
keinginan kita selalu ingin didahulukan dan dipenuhi namun saat semua
itu telah diberikan kepada kita, kita melupakan Allah dan berpaling
kepada selain-Nya, sungguh kita adalah sejelek-jelek makhluk karena
kejamnya kelakuan kita ini.
Maka
cintailah Rabb-mu sebelum engkau belajar mencinta orang lain, karena
hanya cinta kepada-Nya lah yg abadi, yg akan membawa dirimu
kesisi-Nya kelak, yg akan membawamu ke surga yg penuh dengan
kekekalan yg abadi dalam cinta yg abadi pula.